Kisah Tragis Pasangan Gay Thailand, Tanpa Alasan Dibully Netizen Indonesia

 

Pasangan baru menikah itu bingung mengapa diserang random netizen asing, sampai dapat ancaman pembunuhan. Perilaku memalukan ini makin membenarkan riset Microsoft soal ketidaksopanan netizen.


Kayaknya label “netizen paling tidak sopan” se-Asia Tenggara sudah terlalu sopan buat menggambarkan perilaku jari jemari orang Indonesia saat berkomentar di internet. Insiden memalukan belum lama terjadi ketika segerombolan netizen Facebook asal Indonesia menyerang pasangan gay asal Thailand, Suriya Koedsang dan Bas, yang baru melangsungkan pernikahan.


Pengguna medsos berkelakuan minus ini menghujat pasangan tersebut di kolom komentar unggahan foto pernikahan pada 3 April 2021, merendahkan Suriya dan Bas atas orientasi seksualnya.


Suriya mengaku, selama tiga hari ia harus menerima kata-kata kotor, sumpah serapah, dan ancaman pembunuhan oleh orang-orang Indonesia homofobik. Belum diketahui pasti apa pemicu Suriya jadi target cyber bullying antarnegara ini. Salah satu postingan Suriya menyebut foto pernikahannya tiba-tiba saja dibagikan akun-akun Facebook orang Indonesia.


Situasi riuh mengalami eskalasi cepat setelah Suriya speak up dan diliput banyak media, memicu debat daringantara netizen Thailand versus Indonesia. Sejumlah orang Indonesia yang masih waras meminta maaf atas perilaku rekan senegara mereka.


“Orang tua, tante, kerabat, teman, bahkan fotografer saya mendapat ancaman. Beberapa orang Indonesia itu mengirimi kamu video penyembelihan untuk menakut-nakuti kamu. Saya punya sejuta pertanyaan di kepala tentang mengapa [mereka melakukan itu]? Kami menikah di rumah kami, tempat kami, negara kami. Apa yang salah dari Indonesia dan orang-orangnya? Mengapa harus terjadi pada kami ketika banyak pasangan LGBTQ melaksanakan pernikahan di luar sana?” tulis Suriya dalam postingan Facebook-nya menanggapi kegaduhan tersebut, kemarin (11/4).


Jika jawabannya adalah ajaran Islam, Suriya bilang ia pernah hidup di antara mayoritas muslim di Pattani, Thailand selatan, dan tidak mendapat masalah sama sekali soal identitasnya. Bahkan keluarganya yang muslim mendukung ia menjadi diri sendiri. “Agama tidak pernah mengajarkan untuk membenci dan merendahkan manusia lain,” tambah Suriya.


Tak cuma korban cyberbully yang mengeluhkan situasi ini. Beberapa netizen Indonesia yang masih waras turut mengekspresikan kegeraman melihat tingkah laku rekan senegara mereka yang amburadul.


Mungkin mengetahui para tukang troll Indonesia cuma garang di medsos dan ciut di hadapan borgol, pasangan ini meminta perlindungan hukum pada pengacara Ronnarong Kaewpetch. Keputusan ini diambil karena ada ancaman pembunuhan yang entah serius atau main-main. 


“Wahai orang Indonesia, jangan berpikir bahwa berada di sana [Indonesia], maka saya tidak bisa melakukan apa-apa. Pada hari ketika kalian memasuki Thailand, saya siapkan polisi dengan surat penangkapan terhadap kalian,” tulis pengacara Ronnarong, dilansir Coconuts.


Kasus ini jelas meningkatkan taraf ketidaksopanan netizen Indonesia di dunia maya. Sebelumnya, keterlibatan Indonesia pada tubir internasional selalu dipicu nasionalisme berlebih. Mulai dari drama Dewa Kipas dan Gotham Chess, dikeluarkannya tim Indonesia dari ajang All England 2021, sampai serangan ke akun medsos Microsoft setelah mereka melansir survei bahwa netizen Indonesia paling tak sopan se-Asia Tenggara. Kasus Suriya memperlihatkan, rupanya netizen Indonesia juga hobi mengurusi moral penduduk negara lain.


Usai survei Microsoft yang emang bikin geger itu, sebenarnya pengamat media sosial Enda Nasution sempat bilang ini momen wake up call agar kita sadar diri buat lebih santun di internet. Namun, melihat kasus-kasus susulan usai survei itu, kok kayaknya makin parah aja ya? Apa tukang troll +62 justru bangga menyandang status negatif ini?

Menyalinkode AMP