Kisah PSK 18-50 Tahun Dapat Bimbingan Mental Hingga Keterampilan Salon Sampai Bikin Telur Asin

 

Para pekerja seks komersial (PSK) yang terkena razia berusia 18 sampai 50 tahun lebih di Solo mendapatkan rehabilitasi.


Para PSK kini ditampung di Panti Pelayanan Sosial Wanita (PPSW) Wanodyatama, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.


Awalnya, mereka terkena razia tim gabungan.




Sebelum menjalani kegiatan itu, mereka harus menjalani karantina mandiri dan serangkaian protokol kesehatan.


Uji swab menjadi satu diantara protokol kesehatan yang harus dilalui oleh kurang lebih 65 orang PSK.


Kepala PPSW Wanodyatama, Joko Sarwanto mengatakan, para PSK yang direhabilitasi sudah dinyatakan negatif Covid-19.


"Kalau di-swab test, tidak ada yang positif Covid-19. Tapi, ada yang diketahui livernya sakit dan HIV/AIDS," kata Joko kepada TribunSolo.com, Selasa (16/3/2021).

Warga binaan PPSW Wanodyatama, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan Solo tengah menggoreng donat, Selasa (15/3/2021). (TribunSolo.com/Adi Surya)

Mereka, sambung Joko, langsung menempati kamar-kamar yang telah disediakan di PPSW Wanodyatama.

Para PSK menjalani serangkaian kegiatan rehabilitasi, diantaranya bimbingan mental, religiusitas, dan karakter.

"Mereka di sini dibina selama 6 bulan. Mereka diberi keterampilan menjahit, tata boga, salon, membuat batik celup, telur asin, dan aksesoris," ucap Joko

Dari pantauan TribunSolo.com, beberapa diantara mereka ditemani pendamping selama proses rehabilitasi.

Praktik tata boga, misalnya, mereka tetap didampingi selama proses awal pembuatan hingga penilaian.

Mereka diajarkan untuk membuat donat.


Joko berharap setelah dibina, para PSK tidak kembali menjajakan diri bagi pria hidung belang.

"Setelah selesai pembinaan di sini, mininal punya keterampilan dasar jahit, tata boga, salon atau keterampilan lain," katanya.



Berhenti Mangkal

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming (jaket kuning), ikut razia PSK yang digelar Polresta Solo, Sabtu (27/2/2021) malam (Istimewa/Dok Polresta Solo)

Warga di kawasan tempat mangkal penjaja seks komersial (PSK) di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo memberikan kesaksian.

Dari informasi yang dihimpun TribunSolo.com, sepanjang malam sebelum gencarnya razia petugas akhir-akhir ini, ada sejumlah titik mangkal PSK.

Mulai di pinggir jalan besar, hingga gang sempit.

Bahkan warga Parti (40) mengungkapkan, pemandangan wanita-wanita mangkal sudah biasa terlihat saat malam tiba.

Warga di kawasan tempat mangkal penjaja seks komersial (PSK) di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo memberikan kesaksian.

Dari informasi yang dihimpun TribunSolo.com, sepanjang malam sebelum gencarnya razia petugas akhir-akhir ini, ada sejumlah titik mangkal PSK.

Mulai di pinggir jalan besar, hingga gang sempit.

Bahkan warga Parti (40) mengungkapkan, pemandangan wanita-wanita mangkal sudah biasa terlihat saat malam tiba.

"Iya, udah biasa mangkal. Pulang-pulang bawa om-om," ujarnya kepada TribunSolo.com, Senin (8/3/2021).

Menurut warga lain yang enggan disebutkan namanya, mengapresiasi razia.

Hanya saja dia khawatir jika sejumlah PSK yang kena razia sewaktu-waktu bisa kambuh kembali.


"Khawatirnya balik lagi," ujarnya.


Pengakuan ini dikuatkan, dari siklus efek jera yang kurang efektif sehingga kembali lagi terjun ke dunia prostitisi.

Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Gilingan, Drajad berharap, kegiatan berhenti atas kesadaran dari diri sendiri.

"Kalau di kelurahan bersifat himbuan, kalau sudah nekat ya bagaimana lagi," tuturnya.

Walaupun kata dia, sudah sering dilakukan sosialisai bahaya aktivitas seksual tanpa kontrasepsi.

"Kami berharap benar-benar sadar," jelas dia.

Sebelumnya, Polsek Banjarsari kembali melakukan operasi penyakit masyarakat (Pekat) di sejumlah titik yang dijadikan tempat porstitusi.

Dalam operasi yang dilakukan selama 1 jam lebih itu, petugas berhasil mengamankan empat orang yang diduga PSK, Kamis (4/3/2021) malam.

Empat orang tersebut berinisial SJ (51), MN (44), ST (45), dan BD (46) tahun.

Dari keempat orang yang diamankan, tak satupun dari mereka yang merupakan warga Kota Solo.

Mereka berasal dari berbagai kota yang berdekatan dengan Solo.

Dari data yang diterima TribunSolo.com, SJ merupakan warga Gunungkidul, MN warga Sragen, ST warga Purwodadi, dan BD warga Gunungkidul.

Menurut Kapolsek Banjarsari Kompol Djoko Satrio Utomo, razia digelar mulai pukul 22.00 - 23.15 Wib,

Empat orang yang terjaring tersebut kemudian diamankan di Mapolsek Banjarsari.

"Kita melakukan pendataan terhadap empat orang yang terjaring razia," kata dia.

"Selanjutnya mereka kami kirim ke Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama Kota Surakarta," akunya.

Ikut Gerebek PSK

Gibran Rakabuming Raka turun lapangan setelah dilantik pada Jumat (26/2/2021) lalu.

Aksi pertamanya adalah melakukan tinjauan vaksinasi pedagang di beberapa pasar Tradisional Solo.

Sementara itu, dia juga melakukan tinjauan pada kondisi Palang Joglo yang selama ini menjadi sumber kemacetan di Kota Solo.

Tidak berhenti disitu saja, kemarin Sabtu (27/2/2021) mestinya jadi malam minggu pertama Gibran Rakabuming Raka, setelah dilantik jadi Wali Kota Solo.

Tapi, bukan menghabiskan waktu bersama Jan Ethes di rumah.

Gibran ikut langsung razia Pekerja Seks Komersial (PSK) yang dilakukan oleh tim Polresta Solo.

Razia itu digelar polisi di kawasan Kestalan dan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Sabtu (27/2/2021) malam.

Razia ini juga diikuti langsung oleh Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak.

Pakai jaket tebal, Gibran ikut razia meski turun hujan.

Dia memantau razia yang dilakukan petugas kepolisian.

Dari razia tersebut ada 36 orang PSK yang ditangkap dan diantaranya ada dua warga Solo.

Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan, mereka melakukan operasi malam di wilayah Kestalan dan Gilingan.

"Adapun dari wanita (pekerja seks komersial) yang tertangkap 17 orang di Kestalan dan 19 di Gilingan," ujarnya, Sabtu (27/2/2021).

Dari total 36 orang yang tertangkap mayoritas dari luar kota Solo.

Menurut keterangan Tim Humas Polresta Solo, Gibran sempat menanyakan ke polisi apa ada warga Solo yang terlibat.

"Ada, Mas. 2 orang. Lainnya luar kota. Ada yang Semarang, Sukoharjo, ada juga yang KTP Madura," jelas seorang polisi kepada Gibran di lokasi.

Tim Polresta Solo juga menyatakan, dalam kesempatan itu, Wali Kota Solo Gibran mengaku banyak mendengar keluhan dari warga soal penyakit masyarakat di wilayah tersebut.

"Ini menindak lanjuti keluhan-keluhan warga selama ini, terutama di wilayah Kestalan dan Gilingan," kata dia.

"Karena selama saya blusukan, banyak yang melaporkan ada beberapa aktivitas yang meresahkan," jelas dia.

Nantinya mereka yang tertangkap akan dibina oleh Dinas Sosial.

"Harapannya tidak akan kembali lagi di sini," tegasnya. (*)
Menyalinkode AMP